Mengulang kata dulu, untuk kemudian bersyukur pada apa yang Tuhan beri pada hidupku sekian tahun ini.
Dulu ketika sedih itu datang, ia menjelma jadi gumpalan awan mendung yang menyelimuti kepala.
Dulu ketika takut itu hadir, ia menyerang buatku enggan memilih jalan.
Dengan kehendak-Nya, aku dipertemukan pada rasa percaya yang melekat pada sosokmu.
Ternyata, aku bisa. Aku bisa menautkan janji bersama.
Seseorang pernah berkata padaku saat belum genap sebulan Papa berpulang, “Ikhlaskan, Jeng.. Mungkin ini waktunya kamu melangkah dan bertemu pengganti Papa..”
Tak mudah, tapi akhirnya aku bisa.
Tak mudah, tapi sekali lagi percaya.
Tuhan tak pernah meninggalkanku, ia buatku bertemu denganmu.
Memandangi wajah pria yang kini ku sebut suami, sambil bergumam “terima kasih telah memilih bersamaiku, hingga kini keluarga ini jadi satu.”
